
Judul : Keajaiban Sholat Shubuh : Menguak Misteri Kemuliaan dalam holat
Shubuh
Penulis :
Imad Ali Abdus Sami Husain
Penerbit :
WIP Solo
Tahun :
Januari 2007
Sholat merupakan
sarana seorang hamba melakukan perbaikan rohani dengan Allah SWT, dengan
perbaikan rohani tersebut diharapkan
manusia mampu untuk merekontruski kahidupan pribadi, keluarga, dan social
kearah yang positif. Namun sayang kedahsyatan ibadah sholat yang Allah
anugerahkan kepada umat manusia tidak mampu dilakukan dengan senang hati tetapi
malah menjadikan sebuah beban yang berat dalam hidupnya. Sering kita jumpai
dalam pergaulan sesama umat islam adanya kata-kata kurang sreg ketika
mendegarkan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin.
Melihat
fenomena tersebut seorang pemikir Islam ‘Imad ‘Ali ‘Abdus Sami’ Husain Doktor
Bidang Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah Universitas Al-Ahzar Kairo, menulis buku
dengan judul Keajaiban Sholat Subuh: Menguak Misteri Kemuliaan dalam
Sholat Subuh.
Dalam
tulisan ini beliau mengungkapkan bahwa ada banyak manfaat yang bisa diperoleh
ketika melakukan ibadah sholat terutama sholat subuh;
Pertama, Terapi Jiwa, Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Batas
antara kita dengan orang-orang munafik adalah menghadiri sholat isyak dan
subuh, sebab orang-orang munafik tidak sanggup menghadiri kedua sholat
tersebut” (Muwattho’ Imam Malik). “Sholat terberat bagi orang-orang
munafik adalah sholat Isyak dan subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui
pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun
harus merangkak” (HR. Ahmad).
Diriwayatkan
dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA., ia berkata, “Kami melaksanakan sholat Subuh
berjamaah bersama Nabi SAW, dan tidak ada yang tidak ikut serta selain orang
yang sudah jelan kemunafikannya”.
Dari
beberapa riwayat diatas memberi peringatan kepada kita bahwa manfaat yang
pertama dari sholat subuh adalah membersihkan jiwa kita dari sifat munafik,
karena munafik merupakan salah satu kategori manusia disebut sakit jiwanya.
Orang munafik adalah seorang yang dalam hidupnya selalu senantiasa
mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil, ia memiliki dua wajah
(kiblat), kiblat yang positif dan kiblat yang negative. Kadangkala dalam
hatinya ingin berbuat baik baik tetapi jiwa, pikiran dan fisiknya tidak mampu
untuk menyambut kemauan hati tersebut. Sehingga orang munafik dalam hidupnya
selalu dalam keadaan jiwa yang gelisah. Jiwanya tidak merasa tenang maupun
tentram, yang ada di benaknya adalah keragu-raguan, malas, putus asa, patah
semangat, mencari muka dan selamat hanya untuk dirinya sendiri. Yang
dikeluarkan dari mulutnya adalah ucapan-ucapan hanya untuk cari muka, aktifitas
yang dilakukan hanya dalam rangka untuk membuat pimpinan senang.
Sholat
subuh yang diperintahkan Allah SWT kepada umat muslim merupakan terapi rohani
untuk menyucikan jiwanya dari penyakit munafik tersebut, sehingga kita menjadi
manusia yang bermanfaat hidupnya baik di dunia maupun di akherat, baik di bumi
maupun di langit.
Kedua, Terapi Aqal, sebagaimana firman-Nya:
“Demi
fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila
berlalu Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh
orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Fajr, 89: 1-5)
Penulis
tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Sayyid Qutub RA.) berkata setelah menyebutkan
ayat-ayat ini, “Ayat-ayat ini bukan sekedar kata-kata dan lafazh, ia adalah
nafas-nafas yang terkandung dalam waktu fajar, dan titik-titik embun yang
bercampur dengan wewangian, seruan keselamatan yang melegakan hati, bisikan
lembut untuk ruh, sentuhan yang diarahkan kepada hati, itulah udara fajar,
udara yang familiar dan sangat menyenangkan, disaat spirit ibadah yang khusyuk
bertemu dengan nafas alam yang tenang, di saat ruh-ruh yang tunduk beribadah
dan ruh-ruh malam hari pilihan serta ruh fajar yang indah saling memberikan
respon. Waktu fajar, yang merupakan saat-saat kehidupan mulai bernafas dalam
kemudahan, kegembiraan, senyuman, keakraban, kecintaan, dan kerelaan hati. Saat
dimana alam yang tertidur mulai bangun pelan-pelan seolah-olah nafasnya saling
berbisik, dan seolah suasana merekahnya adalah do’a”.
Waktu
fajar merupakan kondisi yang menyehatkan, karena pada waktu itu tumbuh-tumbuhan
sedang mengeluarkan oksigen yang masih bersih yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan (manusia). Oksigen tersebut yang akan menyegarkan tubuh. Selain itu
dengan menghirup udara yang masih bersih dan segar akan menjadikan otak menjadi
fresh, dengan kondisi otak yang segar seseorang akan mampu untuk
berfikir yang jernih dan mampu memanaj kegiatan pada hari tersebut. Begitu juga
sebaliknya apabila waktu fajar belum melakukan sholat subuh (sampai subuhnya
kesiangan), maka akan mengakibatkan tubuh menjadi lelah dan capek, pikiran
suntuk jiwa tidak tenang yang akan membawa akibat kepada kacau-balau agenda
kegiatan pada hari itu.
Ketiga,
terapi finasial, seorang hamba, walau sezuhud apapun dan sangat tidak
peduli dengan urusan dunia, ia tetap senang kalau lapang rezekinya. Minimal
mencukupi kebutuhan diri sendiri, untuk menyelamatkan muka dari hinanya
meninta-meminta. Dan demi Allah, untuk mencapai ini jalannya adalah dengan
mentaati Allah.
Pernah
suatu ketika Nabi SAW sholat Subuh, begitu selesai beliau pun kembali ke rumah
dan mendapati putrinya, Fathimah, sedang tidur. Maka beliaupun membalikkan
tubuh Fathimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya, “Hai
Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki Robbmu, karena Allah SWT
membagi-bagikan rezeki para hamba antara sholat Subuh dan terbitnya matahari”
(HR. Mundziri).
Ini
bukan berarti orang yang pergi melaksanakan sholat Subuh pasti pulang dengan
kantong penuh uang,--seperti asumsi para penyembah dunia dan budak uang--, atau
seperti dikatakan orang-orang yang suka mempermainkan bahwa setelah matahari
terbit berarti terputus sudahlah rezeki! Bukan sama sekali bukan. Tetapi yang
dimaksud adalah bahwa ketaatan kepada Allah SWT dengan cara menjaga untuk terus
ikut dalam sholat Subuh berjamaah secara konsisten, akan mendatangkan taufik
dari Allah SWT, sehingga nantinya seorang hamba memperoleh keridloan dan
kelurusan dari Rabbnya, yang pada gilirannya ia akan menghabiskan sisa harinya dalam
pertolongan dan kemudahan dari Allah dalam urusan-urusannya.
Memang
benar, taat kepada Allah SWT sudah cukup menjadi jaminan kantong ini pasti
terisi penuh dengan uang. Bagaimana tidak, sementara Allah sendiri telah
berfirman:
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya
Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. ATh-Tholaq,
65: 2-3).
Akhir-akhir
ini, betapa banyak manusia yang tidak menjaga adab dengan baik terhadap Allah
SWT, Sang Pencipta, padahal penyebabnya adalah kemalasan mereka sendiri.
Misalnya, seseorang pergi utnuk menyelesaikan salah satu urusannya, tetapi
kebutulan tidak berjalan dengan baik, maka tiba-tiba saja ia memaki hari,
mengkabinghitamkan ini dan itu tanpa mau mengoreksi kekurangan yang ada pada
dirinya.
Allah
SWT memberitahukan kepada kita bahwa rezeki bisa bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan. Firman-Nya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya” (QS. Al-‘Arof, 7: 96).
Firman-Nya
yang lain:
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum)
Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya,
niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.
diantara mereka ada golongan yang pertengahan. dan alangkah buruknya apa yang
dikerjakan oleh kebanyakan mereka” (QS. Al-Maidah, 5: 66).
Nabi
Muhammad SAW, Sang Nabi yang jujur dan terpercaya, mengabarkan kepada kita
kalau Allah telah mewahyukan kepada beliau bahwa satu jiwa tidak akan mati
sampai ia habiskan jatah rezekinya, setelah itu beliau perintahkan kita dengan
sabdanya, “Maka bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah cara mencari
rezeki. Jika rezeki salah seorang dari kalian lambat, maka janganlah ia
mengejarnya dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena anugerah Allah
tidak dicapai dengan maskiat” (HR. Hakim).
Adapun
para pencari akhirat, mereka memiliki anggapan berbeda kaitannya dengan rezeki
yang ada di antara sholat Subuh hingga terbitnya matahari. Mereka melihat
diberikannya taufik untuk bisa sholat Subuh saja sudah merupakan rezeki
terbesar. Kalau setelah itu ia diberi kemudahan untuk berdzikir setelah sholat
Subuh hingga terbitnya matahari, berarti Allah telah memberikan rezeki terbaik
kepadanya.
Hari
ini, banyak sekali orang yang memperbincangkan produktivitas kerja dan
program-program untuk memacu diri kepada kemajuan dan peradaban. Demi Allah
produktivitas tidak mungkin bisa diraih oleh seseorang apabila tidak diawali
dengan sholat subuh, karena pada waktu subuh sampai terbitnya matahari itulah
Allah membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Seorang manusia yang taat
kepada Allah serta taat menjalankan sholat yang telah diperintahkan maka
yakinlah bahwa kehidupan di dunia pasti akan terjamin. Begitu pula sebaliknya
apabila seseorang lalai atau sampai lupa melakukan sholat subuh maka tunggullah
kefaqiran yang akan menghimpit kehidupannya.
Demikianlah diantara manfaat sholat
subuh yang telah dipaparkan oleh penulis buku ini, mudah-mudahan hadirnya buku
ini akan bermanfaat bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia dakwah, da’i,
mahasiwa, serta para eksekutif yang ingin memajukan produktivitas kerja
perusahaannya maka jangan sampai melupakan memiliki buku ini. Wassalamu’alaikum







.gif)
0 komentar:
Posting Komentar